Tentang Biaskop

Apa yang diukur Biaskop, bagaimana caranya, dan apa yang tidak dilakukannya.

Biaskop adalah sebuah proyek yang bertujuan untuk mengungkap bias di media-media berita Indonesia dengan bantuan kecerdasan buatan (AI).

Proyek ini lahir dari satu pertanyaan sederhana: kalau lima media memberitakan peristiwa yang sama, kenapa hasilnya bisa terasa begitu berbeda? Biaskop mencoba menjawabnya dengan menaruh liputan-liputan itu berdampingan, lalu mengukur pola bahasanya.

Biaskop didanai sendiri dan dijalankan secara independen — tanpa iklan, tanpa sponsor, dan tanpa afiliasi dengan media atau partai manapun.

Metodologi

Kami membuka seluruh skenario kami: prompt, rubrik penilaian, dan model yang digunakan.

Bagian ini menjelaskan tujuan, batas, dan kerangka kerja Biaskop. Tidak ada algoritma yang sempurna, dan tidak ada pembaca yang netral. Yang dapat kami tawarkan adalah cermin: pola pemberitaan yang sudah ada di hadapan publik, disusun dalam bentuk yang lebih mudah dibandingkan.

Kode, prompt, dan rubrik penilaian ada di GitHub↗

Seperti inilah hasilnya.

Contoh media nasional

Contoh ilustratif

Pemerintah pastikan ekonomi tetap solid di tengah gejolak global

Penjajaran EliteCondong · Pro-Pemerintah
OposisiPro-Pemerintah
Lensa IdentitasSeimbang
Sekuler-NasionalisReligius-Konservatif
Kedaulatan EkonomiCondong · Pasar Terbuka
Pasar TerbukaProteksionis
Negara vs SipilBias kuat · Pro-Negara
Pro-SipilPro-Negara
SensasionalismeBias kuat · Sensasional
MendalamSensasional
60/ 100
Bias Index · Tinggi
  • Rendah<20
  • Sedang20–44
  • Tinggi45–64
  • Sangat Tinggi65+

Lima sumbu menggambarkan dari sudut mana cerita diceritakan. Bias Index merangkumnya jadi satu angka. Kualitas Sumber mengukur hal yang berbeda: seberapa banyak klaim didukung sumber yang dapat ditelusuri.

Tujuan

Biaskop ada untuk memperlihatkan apa yang sudah ada di luar sana. Setiap hari, ratusan artikel diterbitkan oleh media Indonesia. Pembaca membaca satu, dua, mungkin tiga sumber — dan dari potongan itu menyusun gambaran tentang dunia. Kami tidak menambahkan fakta baru. Kami menyusun ulang potongan yang sama, berdampingan, sehingga pola yang biasanya tersembunyi menjadi terlihat.

Kami tidak menentukan benar atau salah. Biaskop bukan otoritas kebenaran. Kami tidak memberi label "hoaks" atau "fakta" pada sebuah artikel. Menjadi penengah kebenaran adalah peran yang berat dan berisiko, dan dalam masyarakat demokratis peran itu seharusnya tersebar — di antara pembaca, ruang redaksi, akademisi, dan lembaga independen — bukan terpusat pada satu platform.

Yang kami ukur adalah pola bahasa, pilihan bingkai, dan kepadatan sudut pandang di dalam sebuah teks. Pola-pola ini bersifat deskriptif. Mereka tidak mengatakan kepada Anda apa yang harus dipercaya. Mereka hanya menunjukkan dari sudut mana cerita diceritakan.

Proses

Tiga tahap: mengumpulkan, membaca, menyimpan.

Pengumpulan

Kami memantau publikasi yang tersedia untuk umum dari sejumlah media arus utama Indonesia. Tidak ada akses tersembunyi, tidak ada dokumen bocor, tidak ada wawancara rahasia. Setiap artikel yang kami baca adalah artikel yang juga dapat dibaca siapa pun melalui mesin pencari atau langsung dari situs penerbit. Tautan asli selalu kami simpan dan tampilkan, agar pembaca dapat memeriksa sumbernya sendiri.

Pembacaan

Setiap artikel dibaca oleh sistem analisis bahasa yang menelaah pilihan kata, struktur kalimat, tokoh yang dikutip, dan bingkai yang digunakan. Hasilnya bukan vonis, melainkan sekumpulan ukuran pada lima sumbu — sebuah fingerprint. Dua artikel tentang peristiwa yang sama dapat memiliki fingerprint yang sangat berbeda, dan perbedaan itulah yang kami ingin tunjukkan.

Dari kelima sumbu itu kami menurunkan satu angka: Bias Index, 0 sampai 100. Angka itu adalah rata-rata simpangan dua sumbu yang paling jauh dari titik netral — sengaja dua, bukan kelimanya, karena artikel yang berat di satu sumbu tetap artikel yang berbias, sementara merata-ratakan kelimanya akan menenggelamkannya. Terpisah dari itu kami mencatat Kualitas Sumber: isyarat kasar tentang seberapa banyak klaim didukung atribusi atau bukti yang dapat ditelusuri. Keduanya bukan skor kebenaran, dan keduanya berdiri sendiri — sebuah artikel bisa bersumber rapi dan tetap berbias.

Penyimpanan

Hasil analisis disimpan agar dapat dibandingkan dari waktu ke waktu. Ketika beberapa artikel membahas peristiwa yang sama, kami mengelompokkannya menjadi sebuah benang cerita. Pengelompokan ini memungkinkan pembaca melihat satu peristiwa melalui beberapa lensa sekaligus — bukan hanya melalui satu media yang kebetulan muncul paling atas di pencarian.

Kenapa lima sumbu

Spektrum kiri–kanan adalah warisan politik Eropa abad ke-20. Dipakai untuk membaca Indonesia, ia hampir selalu menyesatkan. Partai yang secara ekonomi populis dapat secara budaya konservatif. Tokoh yang dianggap reformis dalam satu isu dapat menjadi ortodoks dalam isu lain. Koalisi politik di Indonesia berubah dengan cepat, dan garis ideologi yang kelihatan tegas pada hari Senin dapat memudar pada hari Jumat.

Oleh karena itu, satu sumbu saja — apalagi sumbu yang diimpor dari konteks asing — tidak cukup. Kami memilih lima sumbu yang, menurut pembacaan kami atas jurnalisme Indonesia, paling sering menjadi titik di mana pilihan editorial benar-benar berbeda satu sama lain. Lima sumbu ini tidak menggantikan kiri–kanan; mereka berusaha menggantikan pertanyaan "di mana posisi media ini?" dengan pertanyaan yang lebih jujur: "pada dimensi mana media ini menonjol, dan pada dimensi mana ia diam?"

Penjajaran Elite

Oposisi → Pro-Pemerintah

Sejauh mana sebuah artikel memposisikan tokoh, partai, atau lingkar kekuasaan sebagai protagonis atau antagonis cerita. Sumbu ini menangkap kedekatan editorial terhadap aktor elite — bukan benar atau salah, melainkan siapa yang diberi panggung dan siapa yang ditempatkan di pinggir.

Lensa Identitas

Sekuler-Nasionalis → Religius-Konservatif

Seberapa kuat peristiwa dibingkai melalui kategori identitas: agama, etnis, daerah, generasi, atau gender. Bingkai identitas adalah pilihan editorial yang sah, namun konsistensi penggunaannya menjadi sidik jari yang khas dari setiap redaksi.

Kedaulatan Ekonomi

Pasar Terbuka → Proteksionis

Posisi naratif terhadap pasar terbuka, investasi asing, proteksi domestik, dan peran negara dalam perekonomian. Di Indonesia, pertanyaan ini sering melintasi batas ideologi tradisional — sehingga layak diukur sebagai sumbu tersendiri.

Negara vs Sipil

Pro-Sipil → Pro-Negara

Tegangan antara wewenang institusi negara dan ruang masyarakat sipil. Sumbu ini mencatat ke arah mana simpati editorial bergerak ketika keduanya berhadapan — tanpa menilai mana yang seharusnya menang.

Sensasionalisme

Mendalam → Sensasional

Tingkat dramatisasi bahasa, urgensi yang dimanufaktur, dan beban emosi dalam pemilihan kata. Ini adalah sumbu tata bahasa, bukan ideologi: media dari spektrum manapun dapat tinggi pada sumbu ini.

Kelima sumbu ini sengaja tumpang tindih dengan cara yang mencerminkan realitas politik Indonesia. Sebuah artikel dapat tinggi pada Penjajaran Elite tanpa tinggi pada Lensa Identitas. Ia dapat rendah pada Sensasionalisme namun tegas pada Negara vs Sipil. Kombinasi itulah — bukan satu angka tunggal — yang menjadi sidik jari sebuah ruang redaksi.

Apa yang tidak kami lakukan

Kami tidak menulis ulang artikel. Kami tidak mengoreksi penerbit. Kami tidak menyembunyikan tautan ke sumber asli. Kami tidak menyusun peringkat "media terbaik" atau "media terburuk", karena kategori semacam itu bergantung pada nilai pembaca, bukan pada data. Kami juga tidak mengklaim bahwa fingerprint kami adalah satu-satunya cara yang sah untuk membaca media — ia hanyalah satu cara, terbuka untuk diperdebatkan dan diperbaiki.

Jika sebuah pembacaan kami terasa keliru bagi Anda, sampaikan kepada kami: sanggahan pembaca adalah cara rubrik ini diperbaiki. Bias, pada akhirnya, adalah pola yang muncul dari banyak pasang mata. Biaskop hanya ingin menjadi satu pasang mata tambahan — yang konsisten, transparan, dan tidak punya kepentingan untuk meyakinkan Anda tentang apa pun selain bahwa pola itu memang ada.

Dokumen ini akan diperbarui seiring berkembangnya pemahaman kami. Versi sebelumnya tetap dapat ditinjau atas permintaan.

Dukung proyek ini

Biaskop gratis untuk semua, tanpa iklan, dan didanai sendiri. Kalau analisisnya bermanfaat, Anda bisa ikut menutup biaya server.

Lihat cara mendukung

Kontak

Biaskop adalah proyek independen dan non-komersial. Pertanyaan, masukan, dan saran paling cepat sampai lewat formulir di bawah ini.

Formulir Masukan ↗

Koreksi dan sanggahan

Kalau Anda mewakili sebuah media dan menilai penilaian kami atas sebuah artikel keliru, sampaikan lewat formulir yang sama dengan menyertakan tautan artikelnya. Setiap sanggahan kami tinjau, dan analisis yang terbukti salah akan kami perbaiki atau kami tarik.

Dukung